Ketika Jokowi Menang Tanpo Ngasorake, Prabowo Pun Nglurug Tanpo Bolo

Ketika Jokowi Menang Tanpo Ngasorake, Prabowo Pun Nglurug Tanpo Bolo

Kontestasi Pilpres 2019, mulai menunjukkan hasil akhir yang mencengangkan –jika tidak mau disebut menakjubkan. Format baru dalam proses demokrasi terbentuk; bahwa kompetisi tidak melulu soal kalah-menang!

Kosmologi Budaya Jawa, memiliki beberapa filosofi yang cukup populer. Meski, sesungguhnya sulit untuk diterapkan dalam tradisi politik praktis. Karena sifat “kekuasaan” yang begitu melekat pada politik, menjadikan falsafah yang pekat kadar moralitasnya, sulit lebur membentuk sifat baru sebagai energi positif politik secara umum.

Salah satu filosofi Jawa yang populer, yang pernah menjadi salah satu judul buku budayawan Umar Kayam adalah: Sugih tanpo bondo, Menang tanpo ngasorake, dan Nglurug tanpo bolo.

Terbaca seperti sanepan (sindirian). Tapi, nilai filosofinya tinggi. Menerapkan satu diantara tiga, dua diantara tiga, atau ketiganya di dalam politik praktis, akan dianggap sebagai hal yang mustahil.

Ini bukan sinisme terhadap kehidupan politik hari-hari ini. Ini, adalah sebuah teori sederhana, yang jika diurai alurnya akan seperti ini:

Bahwa, substansi politik praktis dalam proses demokrasi adalah massa cair. Energi utamanya proses menuju kekuasaan. Larutan pembentuknya, tidak memiliki rumusan absolut. Biasanya, cenderung tidak mengenal kepekatan pada fundamental ideologi nasionalisme Indonesia, legal prosedural, birokrasi substansial, standar ketaatan tinggi pada norma hukum dan etika, termasuk di dalamnya adalah standar moral.

Karenanya, ketika di dalam massa cair dilarutkan nilai moral yang pekat pada nilai-nilai filosofis dan fundamental, maka energi yang muncul pun menjadi berbeda. Setidaknya, dua konsekuensi akan muncul: massa yang menjadi larut dan massa yang menjadi anti.

Seberapa dominan yang larut dan anti, akan menjadi skala yang menentukan unsur bentukan barunya.

Formula-formula politik praktis dalam demokrasi dengan sifat pembentuk berupa meraih (atau, merebut) “kekuasaan” melalui proses kompetisi, selalu berwujud nyata pada terbentuknya material kekalahan atau kemenangan. Pilihan seri, tidak memiliki ruang.

Memang, pada banyak kasus kontestasi politik praktis, tidak bisa disimpulkan sesederhana itu. Ada banyak faktor, yang menentukan pula. Ada situasi yang bisa menjadi anomali. Atau, ada juga anasir-anasir ekstrim yang bisa mengubah polarisasi unsur.

Bahkan, ada juga ketentuan sudah sesuai dengan “garis tangan”, yang biasanya digunakan sebagai penjelasan sederhana atas peristiwa yang tidak terprediksi, atau sulit dicerna akal awam.

* * *

Jokowi, pada kontestasi Pilpres 2019 telah dinyatakan menang dalam dua proses legal-konstitusional: unggul dalam perolehan suara dan menang dalam sengketa di MK.

Proses pembentukannya, pada pemilu kali ini sangat berbeda dengan proses kontestasi lima tahun lalu, meskipun dengan rival yang sama: Prabowo Subianto.

Sulit untuk tidak menyebut, bahwa Pilkada di DKI Jakarta 2017 telah menjadi unsur penting dalam proses kontestasi Pilpres 2019. Munculnya anasir-anasir SARA pada kontestasi politik di Pilkada DKI Jakarta 2017, telah larut dalam proses kimiawi politik hingga Pilpres 2019.

Dinamikanya, nyaris menyentuh titik ekstrim. Politik identitas membentuk dua kutub menjadi tesa dan anti-tesa yang melebar jaraknya dan sulit menyatu.

Aparat Kepolisian, TNI hingga BIN yang menjadi perangkat utama untuk menjaga tidak berbaurnya kepentingan politik praktis dengan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi korban. Dituduh partisan, tidak fair, bahkan direduksi dengan berbagai informasi palsu dan tuduhan untuk mendegradasi kepercayaan publik pada tiga institusi tersebut. Targetnya adalah melemahkan, dan mengaburkan prosedur-konstitusional dan legitimasi negara.

Terjadi letupan-letupan pada beberapa titik didih di wilayah elektoral. Anasir-anasir SARA terus bergerak mencari ruang dan celah untuk mendegradasi proses pembentukan pemerintahan baru yang konstitusional dan legitimated.

Ada yang meyakini, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia akan mengalami proses Balkanisasi bisa menjadi niscaya. Terpecah oleh polarisasi politik indentitas yang menguat dalam kontestasi-kontestasi politik praktis berikutnya; lokal, regional, atau bahkan di tingkat nasional.

Pada situasi ini, dinamika sosial makin menguatkan bahwa nilai-nilai moral dan filosofis yang berakar pada budaya bangsa ini, akan sulit larut pada senyawa-senyawa politik praktis dalam kontestasi demokrasi.

Banyak yang berpendapat, ini adalah efek langsung dari Era Disrupsi Informasi. Beruntunglah TNI, polisi dan BIN tidak terseret dalam arus politik praktis dan melemah. Kondusifitas bagi masyarakat, terjaga.

 

* * *

Hari Sabtu, bulan Juli 2019, Jokowi yang memenangi kembali Pilpres 2019, bertemu dengan rivalnya: Prabowo Subianto. Tidak di kereta kencana. Tapi, di gerbong kereta cepat angkutan massa, dalam perjalanan dari Lebak Bulus sampai ke Senayan

Budaya Jawa, selalu berusaha menangkap simbol dalam peristiwa-peristiwa besar. Dalam lelaku para ratu. Adab para tokoh. Pranata para satria linuwih.

Jokowi yang Jawa-Solo dan Prabowo yang Jawa-Banyumas, selama hampir setahun telah menjadi episentrum dari pergolakan arus utama politik nasional, dan internasional. Menghimpun, menggerakkan hingga membentuk gesekan-gesekan yang menghamburkan begitu banyak energi dalam silang-pendapat, silang-persepsi sampai terancamnya keruntuhan suatu keluarga; patron terkecil struktur sosial kemasyarakatan kita.

Dinamika yang begitu hebat, menjelang titik-puncaknya, sudah hampir membentuk dua kutub ekstrim yang menuju puncak untuk saling berhadapan. Menjadi lawan. Menjadi “anti” antara kutub satu dengan kutub di hadapannya!

Letupan besar, sangat bisa terjadi jika tidak ada jalan keluar yang benar-benar kuat dan bijaksana.

Dan, pada sitausi yang tak pernah diduga sebelumnya, tiba-tiba muncul momentum yang memiliki nilai filosofi Jawa yang tinggi. Sekaligus, ini menjadi jawaban dan kulminasi atas episode politik lima tahunan bangsa ini.

Jokowi menemui Prabowo. Layar politik kedua tokoh itu pun langsung memperlihatkan simbolisme-simbolisme yang meruntuhkan situasi ekstrim yang terus dibangun oleh beberapa pihak.

Jokowi, terlihat membawa simbol filosofi “Menang tanpo ngasorake.” Menang tanpa merendahkan.

Dia katakan, bahwa yang dia temui adalah sahabat lamanya. Sahabat yang akan sama-sama membangun bangsa ini menjadi besar dan kuat.

Begitu pula Prabowo, kehadirannya memperlihatkan simbol pada filosofi “Nglurug tanpo bolo.” Menyerbu tanpa bala-bantuan.

Prabowo, datang tanpa embel-embel pendukung atau pengikutnya. Dengan ketegasannya, dia mengatakan bahwa kehadirannya adalah mewakili rakyat Indonesia. Seluruh rakyat. Bukan pemilih atau pendukungnya!

Sungguh, ini tahapan sangat penting. Momentum pertemuan ini adalah pondasi filosofis bagi arah pembangunan dan masa depan Indonesia. Bahwa, kontestasi politik dalam proses demokrasi Indonesia, telah berakhir dengan win-win solution. Kemenangan rakyat!

Tidak ada simbol adigang adigung adiguno, sopo sira sopo ingsun. Yang berkuasa tidak berhak melakukan sesuka hatinya, seperti pada rezim lampau. Tidak. Tidak terlihat simbol-simbol itu.

Pertemuan Jokowi-Prabowo ini, setidaknya akan memberikan harapan bagi para pendukung keduanya. Bagi yang pro-Jokowi, momentum ini adalah semangat awal untuk bekerja lebih keras lagi. Karena saat ini, sudah ada sahabat yang menjadi mitra (yang) sangat kritis untuk menjaga arah kompas perjalanan bangsa.

Begitu pun pendukung Prabowo. Kehadiran Prabowo itu, akan menjadi kebanggaan. Bahwa, tidak ada kebanggaan bagi setiap patriot bangsa selain menjadi mata, telinga dan suara hati rakyat Indonesia.

Nilai filosofis ini, akan menjadi saringan bagi siapa saja, yang sebenarnya selama ini menjadi petualang-petualang politik yang berusaha menggerus kekayaan, harkat dan martabat bangsa untuk kepentingan pribadi, kelompok atau segelintir orang saja?

Siapa mereka?

Tentu, pihak yang tidak suka dan berusaha terus mendegradasi pertemuan Jokowi-Prabowo dan komitmen membangun bangsa ke arah yang lebih baik itu. Karenanya, menjadi sangat penting untuk terus mendorong agar komitmen Jokowi dan Prabowo pada perjalanan lima tahun ke depan, adalah merealisasikan simbol-simbol filosofis itu.

Tidak ada lagi kosong-satu atau kosong-dua. Waktunya merajut kosong-tiga: Persatuan Indonesia.

Waktunya kerja keras untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Poin penting yang patut direnungi:

Tak dinyana-tak diduga, nilai-nilai filosofis yang menjadi akar budaya bangsa ini, pada akhirnya menjadi salah satu jawaban konkret dan strategis, untuk merespon masa yang disebut sebagai Era Disrupsi Informasi ini.

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti…

Leave a Reply

Your email address will not be published.