Bandwagon Effect, Publikasi Survei Untuk Pengaruhi Opini Publik

Bandwagon Effect, Publikasi Survei Untuk Pengaruhi Opini Publik

Survei, bukan spekulasi politik. Survei adalah instrumen untuk menggali berbagai informasi. Dalam politik, tujuannya untuk pemenangan. Mempublikasi survei untuk mempengaruhi pemilih, hasilnya tidak akan signifikan.

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyebutkan, mulai bermunculannya publikasi hasil polling menjelang pemilu, sebenarnya bukan hal baru. Hasil polling atau survei opini publik yang memprediksi peta dukungan kandidat, juga terjadi di setiap negara yang melaksanakan pemilihan langsung.

Di Indonesia sendiri, instrumen survei atau polling untuk memprediksi kemenangan kandidat, sudah populer sejak diberlakukannya sistem pemilihan langsung. Bahkan, hasil polling sudah menjadi kebutuhan bagi kandidat untuk memetakan kekuatan dan kelemahan.

“Tapi, substansi utamanya adalah: hasil survei itu tidak hanya memotret popularitas dan elektabilitas. Instrumen survei itu lebih dari itu. Survei yang betul adalah menggali berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menyusun strategi pemenangan yang efektif,” kata Karyono, Sabtu (09/02/2019).

Karena itu, Karyono mengungkapkan bahwa kebutuhan data survei bagi proses kandidasi, pada ujungnya adalah penyajian atas peta dukungan dan segmen pemilih yang lebih spesifik. Yaitu, bisa berdasarkan wilayah, gender, usia, kelas sosial ekonomi, agama, etnis, primordial, dan lain-lain. Termasuk, peta dukungan kandidat berdasarkan segmen pemilih partai.

“Jadi, yang penting dari hasil survei tersebut adalah, mampu menyajikan data tentang perilaku masyarakat tentang alasan memilih dan mendeteksi pengaruh isu-isu yang terjadi di masyarakat,” jelasnya.

Karyono menjelaskan tujuan survei atau polling sejatinya bukan untuk memengaruhi opini publik tapi untuk mendapatkan data dan informasi tentang peta kekuatan masing-masing kontestan dan perilaku pemilih (voter behavior).

“Jadi sekali lagi, tujuan utama dari survei bukan untuk memengaruhi opini publik,” katanya.

“Kalaupun ada yang memiliki tujuan untuk memengaruhi opini publik melalui publikasi survei, menurut saya tidak akan signifikan pengaruhnya,” sambungnya.

Selain itu, kata Karyono, pada dasarnya hasil survei bukan merupakan faktor utama yang menjadi alasan untuk menentukan pilihan. Justru yang menjadi alasan untuk memilih adalah sifat kepribadian, modal sosial (social capital) dan kemampuan yang menjadi rekam jejak (track record) positif.

“Memang ada dengan yang disebut sebagai Teori Bandwagon Effect. Yaitu, teknik dengan menggunakan publikasi survei untuk mendapatkan efek ikutan, atau dengan kata lain agar pemilih terpengaruh. Tapi, sejatinya itu sudah usang. Jadi seandainya hasil survei yang diumumkan memang menggambarkan realitas obyektif bahwa pasangan capres atau partai tertentu yang unggul di survei, lalu hasil faktualnya menang, bukan berarti kemenangan tersebut dipengaruhi oleh opini hasil survei,” katanya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.