Setelah Tahun 1886, Malam Ini Gerhana Bulan Darah Muncul Kembali

Setelah Tahun 1886, Malam Ini Gerhana Bulan Darah Muncul Kembali

Tepat pukul 12 malam, lebih 43 menit, memasuki tanggal 22 Januari 2019 malam ini, bulan akan berada pada posisi terdekatnya dengan bumi. Ini dikenal sebagai purnama perige atau purnama super. Ada juga yang menyebutnya sebagai Super Blood Moon.

Dalam siaran persnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyebutkan bahwa bulan purnama adalah peristiwa ketika Matahari, Bumi, dan Bulan dalam posisi hampir segaris lurus.

Saat itu, Bulan akan tampak bulat utuh saat diamati dari Bumi. Pada tiga bulan awal tahun 2019, peristiwa purnamanya bertepatan dengan Bulan berada pada posisi terdekatnya dari Bumi sehingga dikenal sebagai purnama perige atau purnama super (super moon).

Pada bulan Januari 2019, purnama terjadi pada 21 Januari 2019 pukul 12.16 WIB. Tepat 12 jam 43 menit sesudah puncak purnama tersebut, atau pada 22 Januari 2019 pukul 02.59 WIB, Bulan akan berada pada jarak 357.342 km dari Bumi.

Selain itu, pada purnama tersebut, juga terjadi peristiwa gerhana Bulan. Sayangnya, peristiwa alam ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia.

Gerhana ini hanya dapat diamati oleh pengamat di wilayah Eropa, Afrika, Amerika, dan sebagian kecil Asia bagian Timur Laut. Karena itu, gerhana bulan pada 21 Januari itu dapat disebut sebagai gerhana bulan perige, yang dikenal juga sebagai gerhana super atau super blood moon, mengingat saat puncak gerhana warna bulan menjadi kemerahan.

BMKG juga memperkirakan, sebulan berikutnya, yaitu pada 19 Februari 2019 pukul 22.53 WIB, Bulan akan kembali dalam fase purnama. Tepat 6 jam 51 menit sebelumnya, atau pada 19 Februari 2019 pukul 16.02 WIB, Bulan berada pada jarak 356.761 km dari Bumi.

Ini adalah posisi terdekat satelit alami Bumi tersebut sepanjang tahun 2019. Jika cuaca cerah, objek langit ini sangat baik untuk diamati detail permukaannya, mengingat saat tersebut akan lebih jelas teramati jika dibandingkan dengan saat bulan dalam posisi terjauh dari Bumi (Bulan di apoge), yang akan terjadi pada 14 September nanti.

Sementara itu puncak purnama terjadi pada 21 Maret 2019 pukul 08.42 WIB dan sesudah satu hari 5 jam 55 menit dari saat Bulan di 359.377 km dari Bumi.

Pada tanggal 21 Maret 2019 ini, tepatnya pukul 04.59 WIB, posisi Matahari berada di equinox, purnama ini dapat disebut juga sebagai purnama equinox.

Saat purnama perige terjadi, ukuran Bulan menjadi lebih besar 7% dari saat purnama biasa. Demikian juga kecerlangannya akan lebih cerlang 15% dibandingkan saat purnama biasa.

Efek purnama perige yang paling jelas terlihat adalah pada pasang surut air laut yang secara umum akan lebih besar daripada biasanya. Namun demikian hal ini bergantung juga pada kondisi topografi pantai tersebut.

Gerhana Bulan Darah

Istilah Super Blood Moon merupakan julukan yang diberikan oleh NASA atau Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat. Mengapa dinamakan demikian?

Ini karena terdapat 3 fenomena yang terjadi langsung dalam 1 waktu. Fenomena itu adalah super moon yang akan ditandai dengan posisi bulan yang dekat dengan bumi. Super blood moon ditandai dengan adanya bulan purnama kedua di dalam waktu 1 bulan, serta blood moon yang ditandai dengan adanya bulan berwarna merah.

Bulan adalah satelit miliki Bumi dan planet di tata surya lainnya juga masing-masing memiliki satelit. Gerhana bulan seperti ini, sebenarnya termasuk peristiwa langka. Peristiwa ini pernah terjadi satu setengah abad yang lalu,tepatnya pada tanggal 31 Maret 1866, artinya sudah 152 tahun lalu.

Proses terjadinya peristiwa alam ini, akan diawali saat bulan mulai bersinar terang. Kemudian meredup sedikit demi sedikit oleh adanya bayangan hitam yang tidak lain dan tidak bukan merupakan bayangan dari bumi.

Lama-kelamaan, kondisi bulan yang berbentuk bulat, dan akan mulai tertutup secara perlahan hingga bagian bulan semakin lama semakin menyabit dan disebut juga dengan macam macam fase bulan.

Setelah menjadi bulan sabit, maka lama-kelamaan bulan juga akan hilang sementara karena ditutupi oleh bayangan bumi. Saat proses inilah manusia tidak bisa melihat adanya bulan.

Setelah semua bulan sudah benar-benar tertutup dan terlihat seperti hilang dari padandangan maka seiring berjalannya waktu jika kita menunggu maka bulan akan kembali muncul terlihat. Kemunculannya pun akan perlahan-lahan.

Terjadi gerhana bulan super blood moon ini juga mengundang banyak fakta menarik di masyarakat. Ada yang meyakini, fenomena ini membawa sesuatu yang lainnya, yang kadang-kadang belum pernah sebagian orang dengar.

Apalagi jenisnya memang gerhana bulan darah atau blood moon. Gerhana bulan dengan warna bulan merah menyala yang terlihat menakjubkan sekaligus mengerikan.

Namun, yang perlu ketahui bahwa blood moon tidak berbahaya. Ini hanyalah fenomena alam. Tidak sedikit orang merasa takut dengan peristiwa blood moon ini.

Namun, NASA sudah pernah menyampaikan bahwa terjadinya fenomena ini tidak akan memberikan dampak apapun bagi manusia di Bumi. Karena warna merah yang muncul disebabkan karena adanya pantulan bayangan dari bumi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.