Perjalanan Gunadi: Seorang Diri ke Puncak Jalan Tertinggi (1)

Home featured Perjalanan Gunadi: Seorang Diri ke Puncak Jalan Tertinggi (1)
Perjalanan Gunadi: Seorang Diri ke Puncak Jalan Tertinggi (1)

Salju turun di Khardung-La. Barisan gunung-gunung di Himalaya, memutih. Gunadi dengan motor produksi Indonesia, tiba di ujung jalan tertinggi di dunia, setelah menempuh 15.000 kilometer perjalanan. Seorang diri.

Lebih cepat dari rencana. Mulanya, Gunadi yang lulusan IPB ini akan mengibarkan merah putih di jalan tertinggi di dunia, Khardung-La Top, Himalaya pada 28 Oktober 2018.

Tapi, pada tanggal 10 oktober 2018, melalui akun sosial medianya, Gunadi mengabarkan bahwa perjalanannya telah sampai pada titik yang dituju.

Suhu sudah mencapai 10 hingga 15 derajat celcius ketika masuk ke kaki Himalaya. Begitu melintasi pegunungan Dras dan Kargil, suhu sore hari minus 3 derajat celcius. Tiba di Leh Ladakh, jalur utama menuju Khardung-La, suhu minus 5 derajat celcius, beku.

Dalam cuaca dingin dan sinyal seluler terbatas, Gunadi pun menyampaikan pesan dari jalanan tertinggi di dunia itu, melalui akun sosial medianya:

Udara sangat dingin. Tangan perih. Kepala sakit sekali karena oksigen yang tipis. SnowFall tak berhenti. Jalan menjadi es yang sulit dilalui. Himalaya membeku oleh salju.

Keberhasilan solo ride Jakarta to Himalaya adalah keberhasilan riders seluruh Indonesia. Kita adalah bangsa yang besar, kuat, berani, dan disegani oleh negara luar. Mengibarkan merah putih melalui jelajah dunia dalam “Indonesia Around the World”, demi mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.

Ekspedisi Seorang Diri

Perjalanan mengendarai sepeda motor ini, dilakukan oleh Gunadi, Ketua Komunitas Freeriders Indonesia dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2018.

Didukung oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, perjalanan ini merupakan bagian dari Ekspedisi Aksi Keselamatan Jalan. Gunadi (41) menggunakan Viar, sepeda motor merek lokal, produksi asli Indonesia, jenis Vortex 250, dengan kapasitas mesin 250cc versi karburator.


Perjalanan dilakukan sendiri atau solo ride. Rencananya, waktu yang akan dibutuhkan adalah 70 hari, dengan jarak tempuh 15.000 kilometer.

Diberangkatkan pukul 15.22 WIB, hari Minggu (26/8) oleh Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiyadi dari gedung Kemenhub di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Gunadi diiringi beberapa rekannya hingga pelabuhan Merak.

Persinggahan pertama dilakukan di kota Pekanbaru, Kamis (30/8) setelah 4 hari 3 malam melakukan perjalanan di jalur Sumatera. Di sana, disambut oleh komunitas sepeda motor dan dealer Viar, untuk dilakukan pengecekan kendaraan.

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Sabtu malam tiba di Tanjung Balai Asahan – Sumatera Utara. Baru 1.822 kilometer jalan yang dilalui.

Dari Tanjung Balai Asahan, perjalanan dilalui dengan kapal menuju Port-Klang, Malaysia. Istirahat semalam di SS2 Petaling Jaya – Kuala Lumpur. Sempat mengunjungi pabrik Givi di Bandar Bukit Beruntung. Givi adalah tenda plastik kualitas nomor satu, yang biasa digunakan para bikers di seluruh dunia.

Gunadi melintasi Malaysia dengan lancar, karena 99 persen jalan utamanya adalah highway atau tol. Motor bebas masuk berkendara dan tidak dikenakan bayar tiket.  Yang penting taat rambu lalu lintas.

Paspor Antar Negara

Perjalanan agak berbeda ketika mendekati perbatasan Thailand (Border of Betong). Sempat was-was dan ragu: apakah motor Indonesia boleh masuk negara Thailand atau tidak?


Pertanyaan ini muncul karena Thailand bukanlah anggota negara yang mengakui Carnet De Passage En Douane atau CPD. CPD adalah paspor bagi kendaraan yang akan dipergunakan untuk keliling dunia atau lintas batas antar negara.

Dalam beberapa kejadian, ada banyak bikers tidak dapat masuk karena CPD. Alhamdulillah, Gunadi diperbolehkan melintasi negara tersebut.

Paspor dan carnet distempel tanda ACC. Kemudian diberikan custom clearences dari Bea Cukai setempat. “Petugas tidak akan menawarkan apapun selama kita tidak memintanya,” kata Gunadi.


Pengamanan dari pos ke pos perbatasan di Thailand menggunakan standar penjagaan militer. Bagi yang tidak biasa, akan menjadi hal yang menakutkan.

Motor Indonesia pun masuk negara Thailand. Melewati kota Betong dan singgah di Hat Yai untuk berkumpul di cafe bikers setempat, atas rekomendasi dari Mr Rial Hamzah dan Mr Hasanal.

Selanjutnya, perjalanan dari Hat Yai dilanjutkan ke Prachuap, lalu melintasi Khiri Khan dan istirahat di Chai Nat. Perjalanan dari Hat Yai – Prachuap – Khiri Khan sejauh 655 kilometer, ditempuh dalam waktu satu hari.

Sepanjang wilayah Thailand, jalanan lurus dan mulus. Nyaris tidak ada yang berlubang. Ini membuat motor bisa dipacu dalam kecepatan 100- 120 km/jam.

Dari Khiri Khan, perjalanan dilanjutkan menuju ke Mae Sot, perbatasan Myanmar yang berjarak sejauh 316 kilometer. “Makanan di Thailand tidak susah, ada 2 jenis makanan di sini, yaitu: enak dan enak sekali. Namun bagi yang berpantangan makan “pork” harap lihat-lihat dulu,” kenang Gunadi.


Memasuki Myanmar, situasinya berbeda. Masuk ke negara ini, diperlukan visa dan permit dari agent border. Masuknya pun harus “regroup“. Karenanya, harus janjian dulu dengan bikers mancanegara lainnya, yang telah diatur oleh agent border.



Jalur Kanan

Tanggal 9 September 2018, atau memasuki hari ke-15, Gunadi sampai di wilayah border Mae Sot, sebuah kota di perbatasan yang memisahkan antara negara Thailand dan Myanmar. Sudah 2000 kilometer jalur darat yang ditempuh dari Port Klang, Malaysia.

Di Mae Sot, Gunadi regroup dengan riders dunia lainnya. Agent of border – Mr. Zaw, memastikan kelengkapan dokumen yang ada, karena rencananya Senin pagi – motor Indonesia akan masuk ke wilayah Myanmar.

Agent border mengurus semuanya: rute, jalur, dan tempat menginap. Jarak tempuh dari Mae Sot ke tempat rest terdekat adalah 270 kilometer. Saat memasuki Mae Sot jalanan masih dalam pembangunan. Banyak pemeriksaan oleh polisi dan militer.

Gunadi melakukan regroup dengan traveller asal Jerman yang menggunakan mobil.  Di wilayah Myanmar, jalur kendaraan yang digunakan adalah sebelah kanan, mirip seperti jalur di Eropa. Jadi, harus adaptasi.


Tidak banyak foto yang bisa diambil karena harus ikut arahan dari agent border. Myanmar cukup aman bagi bikers seluruh dunia untuk masuk atau sekedar melintas. Hanya saja, yang harus diwaspadai adalah banyaknya sapi dan anjing yang tiba-tiba “lewat”  begitu saja di jalan.

Di Myanmar, mata uang yang digunakan adalah kyats atau dolar. Selain dolar, mata uang lain agak sulit untuk menukarnya. Apalagi tukar rupiah.

Sabtu pagi, 15 September 2018, setelah berpisah dengan regroup, motor Indonesia kembali solo ride. Melaju seharian menuju kota Kohima-India, daerah pegunungan. Butuh dua hari perjalanan untuk melewatinya. Jalannya terjal dan berbatu.

Lepas Kohima, jalan mulus hingga masuk ke daerah Assam-India. Udara di pegunungan India sepanjang Moreh-Kohima-hingga wilayah Assam, dingin dan sejuk. Yang harus diwaspadai adalah angin yang sangat kencang dan jalan rusak.

20 September Gunadi sampai di Bihar-India, tepatnya 1.100 kilometer dari New Delhi, ibukota India. Setelah istirahat, perjalanan dilanjutkan. Kali ini rute yang ditempuh bukan jalur utama. Melainkan jalan kampung. Ini rute baru. Lebih cepat 500 kilometer untuk masuk New Delhi tanpa melewati Nepal.

Sempat ada hambatan saat melalui rute baru. Sekitar pukul 21.00 waktu setempat, jembatan sungai Ganges di daerah Katria putus. Motor dilarang melintas.

Ada dua pilihan: balik arah sejauh 550 kilometer atau tetap berusaha melintasi jembatan itu. Gunadi mencoba bernegosiasi dengan kontraktor jembatan. “Indonesia-India are brotherhood from the President Soekarno and Nehru, and  till President Joko Widodo and the President India now,” kata Gunadi mencoba menerangkan betapa pentingnya perjalanan ini.

Hasilnya, dia boleh melintas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.