Nasib Ujang Sofyan dan Patung-patung Kecilnya

Home featured Nasib Ujang Sofyan dan Patung-patung Kecilnya
Nasib Ujang Sofyan dan Patung-patung Kecilnya

Kekuatannya ada pada detail. Kemampuannya langka. Karyanya imajinatif dan misterius, menjelajah ke negri-negri asing. Sayang, ini belum mengubah nasibnya.

Bertanyalah pada orang-orang di Kampung Babakan Situ tentang Ujang Sofyan, akan banyak cerita. Tentang kayu-kayu kecil, berbentuk aneh dan susah dimaknai.

Ujang Sofyan, sudah berusia 52 tahun. Setengah abad dalam hidupnya, dia habiskan untuk menggeluti kayu. Kayu-kayu kecil. Memikirkan bentuk, pola, hingga makna untuk dirinya sendiri, setidaknya.

Tinggal di rumah sangat sederhana, di Kampung Babakan Situ, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Kemampuan Ujang, termasuk langka. Pematung patung-patung mini.

Ukurannya kecil. Bahkan ada yang sangat kecil. Butuh kemampuan di luar kewajaran manusia normal untuk mengukir, membentuk, bahkan memahat pola, garis dan ornamen-ornamen patung.

Ujang, memang bukan nama pesohor. Bukan penganut isme-isme pada dunia kesenian. Hidupnya mengalir. Ia memahat, mengukir dan membuat patung karena aliran hatinya. Dia hanya mengikuti keinginannya saja.

Semuanya dimulai ketika Ujang Sofyan berusia 13 tahun. Waktu dia masih SD. Di dekat rumahnya ada pengrajin. Sudah tua. Namanya Uwa Ingib.

Setiap berangkat atau pulang sekolah, Ujang sering main ke tempat Uwa Ingib. Di tempat itu, tiba-tiba dia begitu ingin belajar membuat patung.

Ujang mengungkapkan keinginannya pada Uwa Ingib. Tapi, Uwa Ingib meragukannya. Uwa Ingib tak melihat Ujang punya bakat membuat patung.

Tetap saja Ujang memahat patung. Dia ambil kayu gelondongan, dan dipahatnya. Ada rasa yang berbeda. Hingga kemudian patung buatannya itu dia bawa ke Uwa Ingib. Hasilnya: Uwa Ingib membeli patung itu.

Oleh Uwa Ingib, patung itu pun dijual lagi. Laku.

“Bangga sekali. Patung pertama saya dibeli Uwa Ingib. Padahal saya buat nyoba-nyoba sendiri. Patung saya dibawa dan saya dikasih uang Rp 750. Saya tambah semangat dan ingin produksi patung terus,” ungkapnya, mengenang masa itu.

Ujang melambung. Rasanya sungguh menyenangkan. Tak bisa digambarkan. Begitu inginnya dia mematung, Ujang ambil keputusan: berhenti sekolah.

Ujang kemudian belajar memahat patung dari guru pertamanya: Uwa Ingib.

***

Ujang Sofyan mengambil keputusan untuk fokus di dunia seni pahat patung pada usia sangat muda. Begitu memutuskan tidak melanjutkan sekolah, Ujang makin dalam bergelut dengan ukiran dan pahatan kayu.

Dia banyak menggunakan medium kayu nangka dan mahoni. Berbagai bentuk dibuat: karakter manusia, hewan, bunga-bunga, atau bahkan bentuk imajiner yang ia ciptakan dan diwujudkan sendiri.

Sekitar tahun 1993, Ujang bertemu dengan seorang seniman dari Bandung yang cukup terkenal. Pertemuan keduanya berawal dari sebuah acara pameran seni patung di daerah Cipacing, Kabupaten Bandung.

Dari diskusi sederhana, pertemuan itu berlanjut. Makin hari, intensitas pertemuan keduanya semakin meningkat. Menurut Ujang, meski sudah dikenal sebagai seniman, tapi seniman tersebut ketika itu masih belum bisa membuat patung dari pahatan kayu.

Sampai kemudian, seniman itu menawarkan sebuah kerjasama bisnis di bidang seni pahat patung. “Saya diajak bekerja sama untuk merintis pembuatan patung. Ia juga mengajak saya membuat patung di rumahnya,”  cerita Ujang yang ditemui di rumahnya, sekaligus tempat dia bekerja.

Waktu itu, bentuk kerjasama yang disepakati adalah: Ujang yang memproduksi patung pahat, sementara seniman dari Bandung itu memasarkan patung-patung buatan Ujang. Sepakat. Setelah itu, patung-patung karya Ujang mulai sering dipamerkan di beberapa galeri. Tidak hanya di Bandung, tetapi juga di Bali.

Sampai suatu ketika, dalam suatu pameran di Bali, Ujang bersama seniman dari Bandung itu bertemu kolektor dan seniman-seniman dari Belgia. Dari situ, ada tawaran kerjasama.

Ujang, sang seniman dari Bandung, investor serta seniman-seniman asal Belgia bersepakat untuk mengembangkan karya dan pameran. “Bahkan setelah dua kali ke Belgia, sang maestro langsung dikasih galeri. Dia sempat memperlihatkan ke saya foto-fotonya. Dan dia sempat bilang ke saya bahwa galeri itu milik kita berdua,” ungkap Ujang, menceritakan kerjasamanya dengan seniman dari Bandung dan investor dari Belgia itu.

Waktu berjalan. Sampai suatu ketika, Ujang Sofyan merasakan ada kejanggalan-kejanggalan dengan rekan bisnisnya tersebut. “Dia menjual karya-karya saya, tetapi anehnya, ia tidak mau orang tahu bahwa itu buatan saya,” kata Ujang.

***

Tahun 1999, Ujang memulai sesuatu yang baru dalam karyanya. Dia mulai membuat patung mini. Tepatnya, patung super kecil.

Patung itu seukuran beras atau rata-rata berukuran 3 milimeter. Dengan patung ini, cara dan teknik Ujang tidak berubah. Bahkan, dia tetap menggunakan alat yang sama seperti membuat patung atau ukiran pada umumnya, yakni silet dan pisau kecil.

“Hanya untuk bahan, harus berbeda. Bahan yang digunakan harus mempunyai kepadatan yang bagus seperti mahoni, senokeling atau cendana. Kalau kayu biasa mah rapuh, jadi susah membentuknya,” ujarnya.

Karena bentuknya yang kecil, kedetailan dari patung mini tidak bisa terlihat jelas dengan mata telanjang. Karenanya, Ujang selalu menggunakan kaca pembesar.

Berhasil. Ujang yang sudah memiliki dua anak tersebut, menemukan tantangan baru dengan membuat patung mini tersebut.

Begitu tahu karya patung mini buatan Ujang, seniman dari Bandung itu kemudian meminta Ujang untuk membuat patung mini dalam jumlah yang banyak.

“Ia bilang, ada orang Belgia yang pesan 1.000 patung mini itu. Tapi saya tidak diberitahu berapa harganya,” kata Ujang.

Sampai pada suatu ketika, tak sengaja Ujang mendengar percakapan antara seniman dari Bandung itu dan teman-temannya. Dalam percakapan itu, Ujang mendengar tentang harga patung pahat yang dijual sang maestro di Belgia.

“Secara tak sengaja saya mendengar dia menjual satu patung seharga Rp 100 juta. Saya kaget. Sebab, ia hanya menghargai karya saya Rp 1 juta,” kata Ujang.

Yang membuat makin terpukul, Ujang akhirnya mengetahui bahwa patung miliknya diklaim oleh sang seniman dari Bandung itu. “Saya tahu dari media dan dia bilang itu karyanya. Padahal, itu buatan saya. Saya kecewa sekali,” kata Ujang.

Di antara kecewa dan sedih, Ujang tak bisa mengambil keputusan. Ujang telah bekerja cukup lama pada seniman dari Bandung itu. Meski harus menahan beban, Ujang akhirnya tetap bertahan untuk tetap bekerja pada seniman dari Bandung itu. Bahkan, sampai 23 tahun.

***

Pada akhir tahun 2012, barulah Ujang memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. Sejak saat itu, Ujang memulai untuk membuat patung di bengkelnya sendiri.

Ditemui di tempat itu, istri Ujang, Yati Rohayati (47) mengatakan, setelah suaminya tak lagi bekerjasama, seniman tersebut menggelar pameran di Singapore Biennale 2013.

Waktu itu, banyak pengamat seni dunia tertarik tentang patung mini tersebut. “Saya kaget ketika mendengar dia gelar pameran di Singapura dan mengklaim patung mini berjumlah 1.000 itu hasil karyanya. Itu kan bohong. Padahal, waktu itu dia bilang ke suami saya, patung-patung itu tidak terpakai dan simpan di gudang saja. Tapi ternyata dipamerkan dan diklaim,” ungkap Yati, dengan nada kecewa.

Ujang, sebenarnya tidak menuntut banyak hal dengan patung-patung itu. Ujang, seniman asal Cileunyi ini, hanya ingin karyanya diakui sebagai buatannya.

Bahkan, untuk membuktikan kebenaran atas karyanya, Ujang pun sangat siap bila suatu saat dipertemukan dengan sang seniman dari Bandung itu, dibuatkan saja kompetisi membuat patung mini, dengan bahan yang sama dan ukuran yang sama serta konsep yang sama.

“Saya berani kalau disuruh buat bareng sama dia untuk membuktikan omongan saya saat ini,” tegasnya.

Ujang, telah ahli membuat patung. Tapi, ini bukan berarti Ujang tidak menemukan kesulitan saat membuat patung mini. Namun, dia tetap semangat untuk terus berkarya. Dalam waktu dekat, Ujang akan menyelenggarakan pameran.

***

Sejak tak lagi bekerja dengan sang seniman dari Bandung itu, Ujang tak pernah lagi berjumpa. Masalah baru dia temui, persoalan keterbatasan ekonomi.

Namun, Ujang mengaku bersyukur atas apa yang dijalaninya saat ini. Karena, saat ini dirinya mengaku lebih bebas berekspresi tanpa ada tekanan dari manapun.

“Kalau diingat-ingat mah mending gini aja lah. Pas gak punya uang ya wajar lah. Saya dari dulu, walaupun susah, tapi saya produksi bikin patung terus,” tutur Ujang.

Patung-patung mini buatan Ujang saat ini masih belum memiliki standar harga. Ia menjual dengan harga seikhlasnya. “Kalau ada yang menawar Rp 100 ribu, saya kasih, yang penting kepuasan saya adalah karya saya dinikmati orang lain,” katanya.

Dan yang jelas, Ujang mengaku sudah memaafkan apa yang diperbuat sang seniman dari Bandung itu. Bahkan, Ujang membuka pintu, jika seniman tersebut, suatu saat ingin bekerjasama lagi dengan dirinya. Namun, tentu saja dengan perjanjian yang berbeda tidak seperti dulu.

“Saya pasrah aja masalah klaim mah. Saya mah rakyat kecil, cuma kalau sekarang dia butuh patung saya, saya beda dengan yang dulu. Engga pasrah, yah harus ada adu harga. Karena sekarang beda dengan dulu,” kata Ujang, yakin.

Saat ini, dirinya membuat patung pahat sesuai dengan pesanan saja. Ujang bisa membuat patung ukuran besar hingga 7 meter. Atau, membuat patung super mini berukuran 3 milimeter.

Selain itu, Ujang juga melatih beberapa pemuda di kampungnya tentang cara memahat patung. “Di desa Cileunyi ada aktifitas positif, bahkan banyak anak-anak kecil yang tertarik untuk belajar ke saya. Bahkan saya juga punya murid 10 orang yang sekarang. Alhamdulillah sudah bisa buat patung sendiri,” katanya.

Ujang juga mengajarkan tenik pembuatan patung pada anak dan keponakannya. Hendri (32), keponakan Ujang, yang dulu juga bekerja di tempat Ujang bekerja, kini ikut memahat patung mini. Rekor terkecil yang dibuatnya adalah dua millimeter.

Satu diantara tiga anak Ujang Sofyan, saat ini juga sudah menjadi pematung handal dan bekerja di salah satu galeri di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

“Egi anak yang kedua itu sekarang kerja di tempat pembuatan patung. Alhamdulillah ada penerus saya. Saya berharap banyak dengan anak saya,” tuturnya.

Ujang berharap, suatu hari dia akan memiliki wadah sendiri (galeri) untuk menampilkan karya-karyanya. “Inginnya punya geleri, saya ingin menggerakkan pemahat-pemahat yang sudah tidak aktif,” ungkapnya.

Ujang mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah, baik pemerintah kabupaten maupun provinsi, agar dirinya dibantu dibuatkan galeri. “Belum ada yang perhatikan. Saya juga mau punya galeri, yang terpenting itu ada wadah atau tempat, cuma saya juga belum berani minta ke provinsi,” katanya.

Kini, Ujang masih tetap memahat dalam kondisi hidup penuh keterbatasan. Belum ada tanda-tanda, pemerintah hadir untuk memberikan bantuan dan dukungan. Sayang, jika karya-karya dan para seniman ini akhirnya harus tergerus jaman.

Semoga saja, tidak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.