Jebakan Pemilih Milenial di Profil Pemilik Hak Suara

Jebakan Pemilih Milenial di Profil Pemilik Hak Suara

Ada tiga tantangan besar bagi para caleg yang berkompetisi pada pemilihan legislatif 2019: profil pemilih, efek pilpres dan sistem penghitungan suara.

 

Oleh: Yasin Mohammad

Peneliti di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) Tahun 2014 di Jakarta.

Cukup sulit memprediksi perolehan suara pada pemilu legislatif 2019 nanti. Ini pertama kali dalam sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia, pemilu legislatif dan pemilihan presiden-wakil presiden dilaksanakan serentak.

Meskipun, sebelumnya beberapa kali telah diselenggarakan pilkada serentak di Indonesia, tapi dinamikanya akan berbeda.

Tantangan berat dihadapi semua calon peserta pemilu dan seluruh pihak yang terlibat dalam pemilu: pasangan capres-cawapres, partai politik, dan ujung tombak dari mesin politik partai, yaitu calon anggota legislatif.

Bagi partai politik dan kandidat, tantangan terberat adalah bagaimana mempertahankan basis pemilih dan merebut pemilih baru di daerah pemilihannya.

Persoalannya, profil pemilih 2019 ini lebih mulai berbeda. Pada pileg dan pilpres 2019 nanti, profil pemilik hak suara pada usia 17-35 tahun atau yang sering disebut dengan istilah pemilih milenial, jumlahnya sekitar 40%.

Pemilih milenial ini yang menjadi lahan suara sangat menggiurkan bagi para kandidat. Baik kandidat capres-cawapres, partai politik, apalagi calon anggota legislatif.

Mereka akan berlomba merebut pemilih milenial. Bisa diprediksi, para kandidat sudah berkeyakinan, bahwa siapa yang bisa merebut suara pemilih milenial, dipastikan akan mendapatkan keuntungan politik yang sangat menjanjikan.

Pertanyaannya: siapakah milenial itu? Benarkah para pemilih pemula adalah generasi milenial seperti yang digambarkan media selama ini?

Apakah pemilih milenial itu, adalah mereka yang berusia muda dan melek teknologi? Apakah pemilih milenial itu kelompok yang populis dalam dunia marketing?Atau, apakah milenial ini mereka yang bekerja di dunia berbasis teknologi informasi?

Pertanyaan paling mendasar: apakah kalangan milenial ini masuk dalam kategori swing voters?

Jika pertanyaan ini dirumuskan dalam suatu analisa sederhana dengan menghimpun data terbuka saja, sebenarnya sudah bisa dibaca profilnya. Bahwa, tidak semua yang dikategorisasi sebagai milenial adalah swing voter.

Contoh paling sederhana adalah menganalisis basis pemilih pemula atau anak muda yang ada di pedesaan, atau daerah bukan perkotaan. Di wilayah-wilayah seperti itu, sulit dibuat kategori pada kelompok-kelompok anak muda untuk masuk sebagai kelompok milenial.

Artinya, jika pasangan capres-cawapres, caleg dan parpol terjebak dalam analisa populis atau pasar, dan fokus energinya hanya berusaha untuk merebut pemilih milenial, tidak menutup kemungkinan pola seperti itu akan menjadi blunder.

Sebab, realitas politik pada swing voters berbeda dengan pemilih milenial. Data yang ada pada pendulangan suara sepanjang penyelenggaraan pemilu, justru menunjukkan bahwa perolehan suara maksimal dilakukan melalui basis-basis pemilih yang sudah ada.

Dengan memelihara basis yang ada, kandidat secara perlahan akan masuk dan  merebut pemilih kategori swing voters. Swing voters sering menjadi penentu dalam kontestasi politik, tapi masuk ke dalam segmentasi ini tidak bisa dilakukan dengan serta-merta.

Karenanya, aneh jika saat ini banyak kandidat yang justru melakukan strategi politik berbalik. Yaitu, memperlakukan pemilih milenial secara berlebihan. Dimana, setiap program dan agenda kegiatan kampanye sering dikaitkan dengan segmen pemilih milenial.

Strategi ini akan berdampak, tentu saja dimulai dengan memudarnya basis pemilih kandidat. Padahal pemilih terpenting adalah basis, bukan sebaliknya; merebut swing voter (dengan segmen milenial).

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.