Cerita Dari Lao Sam Tentang Keragaman

Cerita Dari Lao Sam Tentang Keragaman

Pramoedya Ananta Toer menggambarkan Lao Sam pada abad XVI, sebagai tempat yang ramah dan terlindungi dari ombak laut. Mayoritas penduduknya bermata sipit. Memiliki bandar kecil yang dikelilingi bukit-bukit.

 

Oleh: Bobby Triadi

(penulis adalah pembuat film dokumenter)

 

Dalam novel Arus Balik, Pram menyebut Lasem sebagai Lao Sam. Wilayah kecil yang memiliki bandar sendiri.  Berada di jalur antara dua bandar: Tuban dan Jepara.

Otoritasnya tunduk pada aturan Kadipaten Tuban yang dipimpin Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta yang Hindu. Namun, Lao Sam juga memiliki duta yang memiliki hubungan baik di Kerajaan Demak yang Islam.

Awal abad itu, kekuasaan pemerintahan Majapahit sudah patah. Para adipati membangun kekuasaannya sendiri-sendiri. Meskipun, tak ada yang berani membentuk kekaisaran sendiri.

Pram menggambarkan kondisi sosio-politik Lao Sam melalui tokoh Gow Eng Cu, orang yang memiliki otoritas pada bandar. Diceritakan bahwa Lao Sam adalah tempat dimana banyak anak buah Panglima Cheng Ho bertahan, setelah kalah dalam berbagai serangan melawan Portugis.

Bangsa Parigi —begitu orang di tanah Jawa saat itu menyebut Portugis— juga menjadi ancaman serius. Bukan saja pada kekuatan armada laut yang dipimpin oleh Kongso Dalbi —sebutan para penguasa di Jawa pada Afonso de Albuquerque— tapi juga pada pecahnya kekuasaan kerajaan pada masing-masing wilayah di tanah Jawa.

Melalui tokoh Liem Mo Han, digambarkan bagaimana orang-orang di Lao Sam lebih memilih membangun jaringan dagang, dibanding membentuk pasukan. Sehingga, posisi wilayah ini menjadi strategis bagi dua pengaruh kekuasaan di Jawa saat itu, yaitu Islam dan Hindu.

Ini yang kemudian menjadikan Lao Sam bertahan. Menjadi wilayah strategis dalam perdagangan dan jalur logistik perang, dengan penduduk yang mayoritas bermata sipit.

***

Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri, atau dikenal dengan Syaikhona Kholil atau Kiai Kholil, pada pertengahan abad XVII adalah ulama besar dari Madura.

Suatu hari, Kiai Kholil menyuruh santri-santrinya membuat kurungan. “Tolong aku dibuatkan kurungan ayam jago. Besok akan ada ayam jago dari tanah Jawa yang datang ke sini,” kata Kiai Kholil.

Keesokan harinya, datanglah seorang anak muda berusia 20 tahunan ke pesantren Kiai Kholil. Pemuda itu kemudian dimasukkan kurungan, dan disuruh mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari.

Pemuda itu, kemudian dikenal sebagai Kiai Ma’shoem Ahmad. Kisah ini diceritakan turun-temurun, sebagai pertanda keistimewaan atau diyakini sebagai karomah pada dua ulama, yang juga sebagai guru dan murid ini: Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Ma’shoem.

Kiai Ma’shoem, nama aslinya adalah Muhammadun. Lahir sekitar tahun 1870. Ayahnya bernama Ahmad, seorang saudagar, yang masih memiliki hubungan darah dengan Sultan Minangkabau.

Sejak kecil, Kiai Ma’shoem telah dikirim ke beberapa pesantren untuk mendalami ilmu agama ke beberapa ulama di Jawa, Madura dan Mekkah. Hingga kemudian menetap di Lasem dan berdagang.

Sambil berdagang, Kiai Ma’shoem terus membangun silaturahmi dan belajar pada berbagai ulama. Termasuk Kiai Hasyim Asy’ari di Jombang. Dari situ pula, Kiai Ma’shoem terlibat pada pembentukan organisasi Nahdlatul Ulama.

Tahun 1916, Kiai Ma’shoem membangun sebuah tempat mengaji. Kecil dan darurat. Juga mulai menghentikan aktifitas berdagang. Kiai Ma’shoem mulai mengajar santri-santri di sekitar daerah Soditan, Lasem, Jawa Tengah, mengaji kitab kuning.

Jumlah santri bertambah. Hingga tahun 2018, dibangunlah asrama kecil untuk menampung para santri. Tempat ini kemudian menjadi pondok pesantren Al-Hidayat.

***

 

KH M Zaim Ahmad Ma’shoem, saat ini menjadi generasi ketiga yang memimpin pondok putra Al Hidayat di Lasem, Jawa Tengah. “Tahun 2018 ini, usia pondok Al Hidayat sudah satu abad. 100 tahun,” kata cucu Mbah Ma’shoem ini.

Mbah Ma’shoem meninggal pada tahun 1972. Dimakamkam di komplek masjid Jami’ Lasem, Rembang, yang dekat dengan jalur utama pantura.

Secara fisik, kondisi pondok Al Hidayat sudah berkembang dan berubah karena renovasi. Lebih luas, bagus, kokoh dan bersih. Tapi sebagai tempat nyantri, Al Hidayat tetap mempertahankan salah satu ajaran penting Mbah Ma’shoem: tasamuh.

Tasamuh adalah sikap bertoleransi. Menjaga hubungan baik pada sesama manusia. Saling menghargai, menghormati, memaafkan. Al Hidayat tumbuh di antara bangunan-bangunan tua Pecinan. Di antara simbol dan tulisan yang hingga saat ini, masih banyak ditemui sebagai peninggalan laskar Cheng Ho.

Pondok Al Hidayat juga tumbuh dalam kehidupan di antara kehidupan budaya penduduk yang beragam: Tionghoa, Hindu, Kejawen atau tradisi lain.

KH Attabik Ali, cucu Mbah Ma’shoem yang juga pengasuh pondok Ali Ma’shoem di Krapyak, Jogyakarta berkisah, pernah pada suatu masa, Lasem benar-benar menjadi kota santri. “Di seluruh sudut kota, terlihat banyak santri,” kenangnya.

Tak ada yang terganggu. Kehidupan masyarakat Lasem yang beragam, tetap tenang dan damai. “Mbah Ma’shoem begitu kuat menjaga silaturahmi. Menjaga agar setiap orang bisa saling hormat-menghormati di antara sesama manusia,” kata KH Attabik Alie.

Beberapa nama tokoh dan pejabat penting di negeri ini, pernah nyantri di tempat Mbah Ma’shoem. “Mbah Ma’shoem itu memberikan uswah. Contoh. Terutama dalam ber-tasamuh, menjaga toleransi,” kata Hj Hindun Annisah, cicit Mbah Ma’shoem yang juga dikenal sebagai aktivis dan ulama perempuan.

Lasem, tetap tumbuh sebagai kota yang beragam. Kedai-kedai kopi bertebaran, karena kopi lasem yang terkenal. Bukan saja rasa dan aroma, tapi juga penyajiannya, yang selalu menggunakan cawan-cawan kecil, seperti cawan yang biasa digunakan dalam tradisi Tionghoa.

Pasar-pasar tradisional bertumbuh dalam keberagaman. Juga bangunan-bangunan kuno, masih kokoh dan mendominasi pemandangan di perkampungan pesisir laut Jawa ini.

Menjaga toleransi, menjadi salah satu ajaran yang terus dikembangkan oleh anak, cucu, cicit dan mereka yang pernah nyantri ke Mbah Ma’shom di Al Hidayat, Lasem. Juga, dikembangkan oleh anak lelaki Mbah Ma’shoem, yaitu (almarhum) KH Ali Ma’shoem, mantan Dewan Syura PBNU yang juga menantu pendiri pondok Krapyak, Yogjakarta, dan kemudian menjadi pengasuh utama di pondok tersebut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.